Berita

Suasana Pasar Imlek Semawis Kota Semarang Usai 2 Tahun Absen

SEMARANG, Jateng – Kemeriahan perayaan Imlek 2023 di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), ditandai dengan dibukanya Pasar Imlek Semawis pada Jumat (20/1/2023) malam. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini kemeriahan tahun baru Tionghoa dipusatkan di Pasar Gang Baru.

Tampak, ratusan lampion berwarna merah dan kuning dipasang di Kawasan Pasar Gang Baru yang berada di daerah Pecinan Semarang. Hiasan lampion tersebar dari mulai dari sebelah timur Beteng, hingga membentang antara Gang Pinggir dan Gang Tengah.

Ratusan warga berbondong-bondong datang untuk melihat perayaan Imlek, membeli kebutuhan Imlek, hingga berburu kuliner di sepanjang gang tersebut. Bahkan, banyak juga dari mereka yang langsung berswafoto dengan latar belakang lampion, dan suasana di Pasar Gang Baru.

Selain itu, warga yang datang dengan maksud masing-masing, ratusan stan makan dan hiasan Imlek dipajang dan dijualbelikan di sepanjang gang tersebut antara lain barongsai, lampion, balon, dan hiasan lainnya.

Warga, stan, serta pernak-pernik yang melebur menjadi satu di Pasar Gang Baru Pecinan Semarang, membuat suasana perayaan Imlek 2023 di Kota Lumpia sangat meriah. Ditambah lagi adanya aksi bagi-bagi tebu serta terong susu dari panitia Pasar Semawis.

“Ramai banget, menurutku masyarakat sangat antusias menyambut Imlek tahun 2023 ini. banyak kuliner juga, jadi pembeli enggak akan bingung milih apa, karena ada semua. terus pertunjukan wayang potehi dan barongsai juga cukup menghibur,” kata Sabrina, 23, warga Blora yang memilih merayakan Imlek di Semarang.

Ketua Kopi Semawis, Harjanto Kusuma Halim, mengatakan perpindahan konsep Pasar Imlek Semawis di Pasar Gang Baru berawal dari usulan RT dan RW Kelurahan Kranggan. Warga setempat meminta agar ruh perayaan Imlek dikembalikan seperti ratusan tahun sebelumnya.

“Mereka minta agar arwah Ji Kau Meh [perayaan Imlek] di Pasar Gang Baru. Arwahnya minta dikembalikan seperti dulu rohnya. Karena sejak awal, puluhan atau bahkan ratusan tahun lalu, di sana [Pasar Gang Baru],” kata Halim.

Terkait Buto sendiri, Halim menjelaskan kata tersebut merupakan akronim dari tebu ditoto [ditata]. Sehingga, buto bukanlah gambaran mahkluk astral, melainkan makna tebu dalam kepercayaan Tionghoa ketika Imlek yang berarti mendatangkan rezeki jika dipajang atau ditata di depan pintu.

“Jadi untuk mengingatkan kembali simbol lama. Yaitu tebu sebagai keberlimpahan, kesuburan, kesejahteraan dan kekayaan,” terangnya.

Sedangkan untuk terong susu yang sebelumnya dibagikan, lanjut Halim, dipercaya memberikan kebaikan dan keberuntungan. Sehingga, terong susu yang sekilas seperti susu sapi itu dinilai sebagai bentuk keberlimpahan.

“Buah terong susu ini bisa bertahan sampai setahun asal tidak terkena air. Rasanya juga manis,” tutupnya.

 

#Polda Jateng, #Jateng, #Jawa Tengah, #Polrestabes Semarang, #Polres Rembang, #Polres Demak, #Polres Banjarnegara, #Polres Pangandaran, #Polres Mempawah, #Pemkab Banjarnegara, #Kabupaten Banjarnegara, #Banjarnegara, #Polda Jateng, #Polda Kalbar, #Polda Jabar, #Hendri Yulianto, #Budi Adhy Buono, #Irwan Anwar, #Dandy Ario Yustiawan, #Kapolres Sintang, #AKBP Tommy Ferdian

Ikuti berita terkini di Google News, klik di sini.

Related Posts