BeritaHukum

Program Kontra Radikal, Div Humas Polri bersilahturahmi di Ponpes Al-Muslimin NWDI Tegal

Lombok Barat, NTB – Silaturahmi Kamtibmas Divisi Humas Polri, dalam Rangka Kegiatan Kontra Radikal menyambangi Ponpes Al-Muslimin NWDI Tegal, Batulayar Lombok Barat.

Tidak tanggung-tanggung, Kabag Penum Ropenmas Divhumas Polri, Kombes Pol. Dr. Nurul Azizah, S.I.K., M.Si., turun langsung. Bersama Kasubbag Berita Bag Penum Ropenmas Divhumas Polri, AKBP Gatot Hendro Hartono, S.E., M.Si., beserta Tim.

Kegiatan Kontra Radikal ini bertemakan Terorisme Musuh Kita Bersama, Kamis (26/1/2023).

“Kami dari Polri, memiliki program Kontra Radikal, kemudian sasaran kami para siswa di Sini. Maka kita sampaikan juga ini terkait dengan silahturahmi Kamtibmas,” ungkap Kombes Pol. Dr. Nurul Azizah, S.I.K., M.Si.

Dalam kegiatan ini juga menghadirkan Narasumber Mitra Kepolisian, Ustad Muhammad Nasir Abbas Abbas.

“Beliau adalah mantan narapidana terkait dengan kasus terorisme. Beliau menyampaikan apa itu terror, apa itu terorisme, dan bagaimana itu intoleransi dan sebagainya,” jelasnya.

Menurutnya, inti dari kegiatan ini adalah untuk memberikan interaksi kepada para siswa di Madrasah Aliyah ini. Terutama terkait dengan nilai-nilai Kebangsaan, Nasionalisme, Multikulturalisme dan anti kekerasan.

“Tadi sudah kita dengar bersama, dari Pimpinan Ponpes Al-Muslimin NWDI, tentang bagaimana tujuan pendiriannya. Bahwa pendirian sekolah ini adalah berlandaskan nilai-nilai Keagamaan dan nilai-nilai Nasionalisme,” ucapnya.

Sehingga, terdapat keseimbangan antara nilai-nilai Keagamaan dan nilai-nilai Kebangsaan tersebut.

Sementara itu, Pimpinan Ponpes Al-Muslimin NWDI Dusun Tegal Afgan Kusumanegara, M.Pd., menjelaskan bagimana cara pihaknya dalam mencegah perpecahan.

“Terkait dengan pendidik di Ponpes ini juga menjadi perhatian, terutama terkait dengan perpecahan. Ketika ada bibit-bibit perpecahan di kalangan santri cepat kami berikan mereka masukan pembinaan,” ungkapnya.

Tujuannya adalah untuk mencegah agar perbedaan pendapat tidak memperbesar yang mengarah kepada perpecahan.

“Jadi perpecahan ini di mulai dari perbedaan-perbedaan pendapat dalam Islam, dan itulah yang kami cegah,” imbuhnya.

Dengan memberikan pemahaman bertoleransi dengan islam secara lengkap, mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah.

“Perbedaan pendapat itu pernah terjadi si Ponpes ini. Saya katakana silahkan berbeda pendapat. Namun jangan sampai merasa diri paling benar, menjudge orang lain salah,” katanya.

Sehingga melalui pertemuan-pertemuan, juga selalu memberikan pengertian agar tidak sampai terjadi perpecahan.

“Selama kita satu akidah, nabi kita sama, kitab suci kita sama, kiblat kita sama, selama kita satu bangsa satu tanah air. Maka itu saudara-saudara kita satu tanah air,” imbuhnya.

Menurutnya, walaupun tenaga pendidik di Ponpes ini berasal dari berbagai organisasi, namun sampai dengan saat ini tidak sampai terjadi perpecahan.

Related Posts